Kamis, 03 Mei 2018

Pengantar Disertasi


KATA PENGANTAR


Naskah ini disajikan untuk memenuhi persyaratan Doktor pada Program Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL), Program Pascasarjana Universitas Brawijaya (PPs UB). Peneliti telah melalui proses ujian kualifikasi dengan topik “Dimensi Epistimologi Burung Garuda sebagai Lambang Negara Indonesia (Tinjauan Filsafat Lingkungan)”, namun cakupan epistimologi terlampau sempit dan mengenyampingkan dimensi ontologis dan aksiologis yang juga merupakan dimensi utama dalam kajian filsafat. Topik ini kemudian mengalami perbaikan menjadi proposal disertasi dengan judul “DIMENSI FILSAFAT LINGKUNGAN BURUNG GARUDA SEBAGAI SIMBOL KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA INDONESIA”. Selanjutnya peneliti melalui proses panjang dalam menjajaki berbagai bidang keilmuan hingga menghasilkan naskah disertasi berikut yang siap dipertanggung- jawabkan.
Kajian filosofis dalam naskah berikut mungkin tergolong hal baru karena dalam proses penelitian disertasi cenderung menggunakan metode kualitatif, namun bukan tidak layak untuk dijadikan sebuah topik penelitian. Topik penelitian ini mungkin sekilas menjadi bahan cemoohan kaum akademis karena memang hadirnya permasalah Burung Garuda dalam tulisan ini berangkat dari kerisauan penulis yang melahirkan beragam pertanyaan. Objek Burung Garuda bagi bangsa dan masyarakat Indonesia merupakan objek sakral yang dikultuskan sebagai simbol negara. Keberadaanya sudah terdoktrinisasi secara terstruktur dan bekerja secara turun-temurun dalam alam berpikir semua generasi bangsa Indonesia, tanpa ada penjelasan ilmiah tentang hubungan filosofis antara objek Burung Garuda, susunan kalimat kelima sila Pancasila dan karakteristik (sosial-budaya) ke-Indonesia-an.
Setiap kali menyanyikan lagu nasional “Burung Garuda” atau  lagu “Garuda di Dadaku”, seorang anak bangsa seakan terhipnotis oleh kata-kata dan suasana kebathinan yang sakral dan penuh hikmat melebihi kekhusukan seorang penganut agama dalam beribadah pada Sang Penciptanya. Sungguh ironis bila penghayatan atas lagu tersebut begitu khidmah hingga meneteskan airmata sementara dalam tatanan aksiologis masih banyak ditemukan berbagai ketimpangan dan ketidak-adilan yang terjadi dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Pertanyaannya, apakah setiap anak bangsa telah memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila yang dilambangkan oleh burung garuda?. Penelitian ini akan menelusuri proses hadirnya burung garuda sebagai lambang negara dalam perspektif historikal, kemudian mengkaji makna ke-Indonesia-an dalam objek burung garuda.
Dinamika kebangsaan yang tengah terjadi akhir-akhir ini terus menggoyahkan nyali nasionalisme anak bangsa dan mengancam integrasi bangsa Indonesia. Terkhusus soal ideologi bangsa Indonesia [Pancasila] yang secara paralel dapat dihubungkan dengan objek Burung Garuda sebagai simbol ke-Indonesia-an karena pada dadanya tersematkan 5 [lima] objek makna dari kelima sila Pancasila. Berbagai literatur sejarah maupun produk karya ilmiah lainnya belum menyajikan relevansi yang ilmiah dan akurat soal keterkaitan antar deretan kata-kata dari kelima sila Pancasila, Burung Garuda dan karakteristik [sosial-budaya] ke-Indonesia-an. Konstruksi berpikir yang dibangun hanya menghubungkan keterkaitan antara teks Pancasila dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia [NKRI] tanpa memposisikan Burung Garuda sebagai objek yang menyimboli kedua unsur dimaksud. Sementara tinjauan teoritik dari pendekatan semiotik mengisyaratkan adanya posisi strategis sebuah simbol atau lambang dalam pemaknaannya serta pengaplikasiannya. Hal inilah menjadi fokus kajian yang dilakukan dalam penelitian dan penulisan naskah disertasi berikut.
Topik ini semakin menarik karena sudut pandang keilmuan yang dirujuk adalah Kajian Lingkungan dan Pembangunan sehingga dapat memotret dari sudut pandang falsafah lingkungan, dimana objek kajiannya adalah Burung Garuda yang merupakan sejenis makhluk hidup dalam sebuah ekosistem. Pendekatan ilmu pembangunannnya adalah dalam rangka membangun kualitas sumberdaya manusia Indonesia yang masih tertawan krisis multi-dimensi, khususnya perihal moralitas kebangsaan yang tercermin dalam moral dan perilaku anak-anak bangsanya. Rasanya sulit diterima secara ilmiah karena topik ini jauh dari tradisi intelektual yang biasa dilakukan dalam pendekatan kajian lingkungan fisik, namun penyaji patut berkemauan keras dalam sebuah misi doktoral ingin menghasilkan sebuah kajian ilmiah yang bermanfaat bagi segenap komponen bangsa Indonesia.
Penulis telah mengelaborasikan berbagai pendekatan keilmuan dalam tulisan ini, yaitu; pendekatan historikal, pendekatan simbolik, pendekatan mitologi, pendekatan morfologi-fisiologi dan pendekatan sosiologi lingkungan. Luaran (outcome) dari penelitan ini menghasilkan sebuah desain pembelajaran yang tepat tentang burung garuda dalam perspektif ilmu lingkungan dan pembangunan bagi segenap masyarakat Indonesia diberbagai tingkatan pendidikan. Penyaji berharap akan menemukan hal baru yang dapat diadopsi dalam desain pembelajaran tentang burung garuda sebagai lambang negara Indonesia dan dapat memberikan perubahan paradigma yang lebih bermartabat dalam pembangunan kualitas sumberdaya manusia Indonesia.
Mengakhiri pengantar ini, penulis ingin mengutip ayat Al Qur’an Surat Ar-Ruum (41) yang menjadi landasan teologis sekaligus sebagai rujukan utama dalam pelaksanaan penelitian ini.



Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Bahwa segala bentuk kerusakan yang terjadi didunia adalah akibat aktifitas manusia sehingga manusialah yang patut melakukan perbaikan dan pelestarian terhadap lingkungannya karena kelebihan nilai dan nafsu membangun peradaban [berpikir dan berkarya] yang dianugerahkan kepadanya. Semoga disertasi berikut mendapat sambutan positif dari berbagai pihak untuk dikoreksi hingga mendekati titik kesempurnaan agar bermanfaat bagi nusa dan bangsa Indonesia serta mendapatkan ridlo dari Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar