Kamis, 03 Mei 2018


GENEOLOGI PERADABAN FUTSAL ALA LAMAKERA

Sebelumnya, maaf saya tidak begitu pandai merangkai kata indah seperti Paman Guru Dr. Umar Bethan atau senior&yunior lainnya tapi biarlah melepas peluh malam ini dengan sederet rasa kesyukuran. Alhamdulillah malam ini berkesempatan bersama keluarga bisa silaturahmi dengan keluarga besar Lamakera di Kota Kupang, kami menyambangi sebuah hajatan fenomenal, olahraga Futsal yang mungkin tidak asing bagi pegiat si kulit bundar. Entah siapa yang menginisiasi perhelatan akbar ini, bagi saya ini adalah sebuah tradisi unik yang terjadi di zaman generasi neo. Tatkala ancaman individualistik melunturkan temali kekerabatan dengan indikasi anak-anak yang hampir lupa garis temurunnya, sekelompok kecil kaum peradaban asal turunan sebuah kampung di ujung Pulau Solor bernama Lamakera yang bermukim di Kota Kupang memilih untuk lapangan futsal sebagai medium kekerabatan. Bergumul dalam momentum itu para sesepuh yang sudah manula sampai generasi besutan abad 21, mereka membaur hampir tak terbilang. Ini baru pertama terjadi di Kota Kupang, sekampung kecil yang sudah lama bermigrasi namun dapat dengan mudah merunut garis genetiknya. Dahsyad Lamakera.

Maaf, saya tidak tahu persis berapa data jumlah anggota komunitas Lamakera yang kini bermukim di Kota Kupang namun diperkirakan kampung asalnya Lamakera hanya berkisar kurang dari 10.000 jiwa disana. Sebagian besarnya telah beranak-pinak di rantauan dan berbaur dalam dinamika peradaban bersama komunitas lainnya. Saya salah satunya yang sempat merasakan halusnya sentuhan tangan mereka kaum pelaut unggul, meski tak mengalir darah tapi dogma sebagai perantau saya banyak belajar dari mereka. Topografi kampung asalnya [Lamakera] berada di kaki bukit yang sungguh tidak memungkinkan anak adam bisa lincah bermain bola di atas bebatuan tajam tapi toh sedari dulu tetap saja ada generasinya yang menjadi bintang lapangan hijau, entah apa musababnya tapi konon katanya itu adalah bakat genetik. Mereka, gen Lamakera bukan hanya sebatas itu [bola] sejarahnya tapi lebih jauh dari itu, beliau-beliau adalah para ilmuwan cerdas, orator handal, pemimpin tangguh dan qori’ nan fasih di atas mimbar mushobaqah. Berharap suatu ketika ada saya dapatkan data tentang segudang prestasi anak gen Lamakera di berbagai bidang urusan yang tersebar di muka bumi Allah. Meski jauh mereka merantau, tetap saja pertalian budaya menarik mereka tetap rekat dan kembali menyatu.  

Saya hampir saja dinobatkan sebagai putra asli dari sana tapi masih ada nama belakang yang tersemat sehingga ketahuan bukan anak keturunan komunitas suku di Lamakera. Kuat dugaan mungkin dalam kelok sejarahnya, ada pertalian darah yang telah memautkannya sehingga dengan mudah saya membaur dalam kemesraan komunitas peradaban ini. Patron politik serta faksum entitas pun terintis kala pergumulan dalam dinamika bersama orang-orang hebat asal Lamakera. Walhasil, ikhtiar berumah tanggapun saya labuhkan ke puteri Lamakera sehingga malam ini saya menjadi pemain ‘naturalisasi’ salah satu suku di Lamakera. Jauh sebelum itu, sekali lagi saya harus jujur bahwa asin airnya telah mengalirkan denyut juang menjadi sang juara. Olehnya, secara pribadi turut berbangga pernah merasakan doktrin kejuangan yang pernah tergagas dalam proses karier. Terima kasih Lamakera, Kampung Peradaban yang tak luntur dikekang zaman. Bersyukur Pernah di Takdirkan Bersama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar